Oleh: Firdaus, M.K
Walinagari Bukik Batabuah | Ketua DPD KNPI Bukittinggi | Presidium KAHMI Bukittinggi
Bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia beberapa waktu terakhir kembali mengingatkan kita bahwa alam selalu memiliki cara untuk berbicara. Hujan ekstrem, banjir, galodo, tanah longsor, hingga gempa bumi bukan hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan pesan moral dan spiritual yang sangat mahal bagi kehidupan manusia.
Namun sering kali, pesan itu tenggelam begitu saja di tengah hiruk-pikuk bantuan kemanusiaan. Ketika bantuan datang bertubi-tubi—makanan, pakaian, uang, dan lainnya—ujian batin justru muncul di tengah masyarakat. Masih dalam suasana duka, manusia sering terjebak dalam konflik kecil: rasa iri karena saudara mendapat bantuan lebih dulu, saling menyalahkan, hingga lupa berterima kasih dan bersyukur. Padahal, bencana sejatinya bukan hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga menguji kejernihan hati.
Jika kita melihat lebih dalam, setiap bencana besar di negeri ini menyisakan pola yang sama: Rumah Allah sering kali tetap kokoh di saat bangunan lain rata dengan tanah.
Tsunami Aceh menghancurkan ribuan rumah dan gedung, namun banyak masjid yang tetap tegak berdiri. Gempa bumi di berbagai daerah merobohkan bangunan beton bertingkat, tetapi sejumlah masjid hanya mengalami kerusakan ringan. Peristiwa galodo di Tanah Datar dan Bukik Batabuah menunjukkan hal serupa: mushala dan masjid tetap berdiri ketika bangunan di sekelilingnya hanyut terbawa arus.
Fenomena ini membuka ruang perenungan yang sangat dalam. Masjid dan mushala dibangun dari pasir, semen, dan batu yang sama dengan bangunan lainnya. Yang membedakan hanyalah niat, fungsi, dan tujuan penggunaannya. Rumah Allah dibangun untuk tempat ibadah, tempat kembali dan menguatkan jiwa, sementara banyak bangunan lain berdiri untuk kepentingan dunia yang sementara.
Melalui tanda-tanda ini, seolah Allah ingin menyampaikan pesan secara tidak langsung:
Harta yang dibelanjakan di jalan-Nya tak akan sia-sia.
Bangunan yang didirikan untuk mengingat-Nya akan dilindungi.
Dan tempat kembali terbaik manusia adalah rumah Allah.
Di tengah bencana yang menghancurkan materi dunia, yang tersisa justru simbol-simbol keteguhan spiritual. Ini menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan rumah dunia untuk bernaung, tetapi membutuhkan rumah akhirat—masjid dan mushala—untuk menenangkan hati serta memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.
Melalui peristiwa ini, mari kita jadikan masjid dan mushala bukan hanya bangunan sunyi yang dikunjungi sesekali, tetapi pusat peradaban, tempat berkumpul, belajar, memperkuat solidaritas, serta merawat iman.
Karena dari situlah keselamatan bukan hanya datang di dunia, tetapi hingga kelak di akhirat.
Semoga setiap bencana yang kita alami mampu membuka mata, menghaluskan hati, serta mengembalikan manusia pada sumber kekuatan yang hakiki: Allah Yang Maha Menjaga.
Agam-Bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia beberapa waktu terakhir kembali mengingatkan kita bahwa alam selalu memiliki cara untuk berbicara. Hujan ekstrem, banjir, galodo, tanah longsor, hingga gempa bumi bukan hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan pesan moral dan spiritual yang sangat mahal bagi kehidupan manusia.
Namun sering kali, pesan itu tenggelam begitu saja di tengah hiruk-pikuk bantuan kemanusiaan. Ketika bantuan datang bertubi-tubi—makanan, pakaian, uang, dan lainnya—ujian batin justru muncul di tengah masyarakat. Masih dalam suasana duka, manusia sering terjebak dalam konflik kecil: rasa iri karena saudara mendapat bantuan lebih dulu, saling menyalahkan, hingga lupa berterima kasih dan bersyukur. Padahal, bencana sejatinya bukan hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga menguji kejernihan hati.
Jika kita melihat lebih dalam, setiap bencana besar di negeri ini menyisakan pola yang sama: Rumah Allah sering kali tetap kokoh di saat bangunan lain rata dengan tanah.
Tsunami Aceh menghancurkan ribuan rumah dan gedung, namun banyak masjid yang tetap tegak berdiri. Gempa bumi di berbagai daerah merobohkan bangunan beton bertingkat, tetapi sejumlah masjid hanya mengalami kerusakan ringan. Peristiwa galodo di Tanah Datar dan Bukik Batabuah menunjukkan hal serupa: mushala dan masjid tetap berdiri ketika bangunan di sekelilingnya hanyut terbawa arus.
Fenomena ini membuka ruang perenungan yang sangat dalam. Masjid dan mushala dibangun dari pasir, semen, dan batu yang sama dengan bangunan lainnya. Yang membedakan hanyalah niat, fungsi, dan tujuan penggunaannya. Rumah Allah dibangun untuk tempat ibadah, tempat kembali dan menguatkan jiwa, sementara banyak bangunan lain berdiri untuk kepentingan dunia yang sementara.
Melalui tanda-tanda ini, seolah Allah ingin menyampaikan pesan secara tidak langsung:
Harta yang dibelanjakan di jalan-Nya tak akan sia-sia.
Bangunan yang didirikan untuk mengingat-Nya akan dilindungi.
Dan tempat kembali terbaik manusia adalah rumah Allah.
Di tengah bencana yang menghancurkan materi dunia, yang tersisa justru simbol-simbol keteguhan spiritual. Ini menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan rumah dunia untuk bernaung, tetapi membutuhkan rumah akhirat—masjid dan mushala—untuk menenangkan hati serta memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.
Melalui peristiwa ini, mari kita jadikan masjid dan mushala bukan hanya bangunan sunyi yang dikunjungi sesekali, tetapi pusat peradaban, tempat berkumpul, belajar, memperkuat solidaritas, serta merawat iman.
Karena dari situlah keselamatan bukan hanya datang di dunia, tetapi hingga kelak di akhirat.
Semoga setiap bencana yang kita alami mampu membuka mata, menghaluskan hati, serta mengembalikan manusia pada sumber kekuatan yang hakiki: Allah Yang Maha Menjaga.
