AGAM - Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi menyerahkan program penyediaan air bersih di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Jumat (3/4/2026). Langkah krusial ini merupakan bagian dari upaya pemulihan masyarakat yang terdampak dahsyat oleh banjir bandang.
“Penyediaan akses air bersih merupakan langkah fundamental dalam mendukung kesehatan masyarakat sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi warga, ” ujar Rektor ITB Tata Cipta Dirgantara di Lubuk Basung, saat seremoni serah terima program di Puskesmas Koto Alam.
Rektor ITB menambahkan, sejak masa tanggap darurat hingga kini, ITB telah berhasil memasang sebanyak 63 instalasi pengolahan air bersih di berbagai wilayah, mencakup Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Program vital ini terwujud berkat kolaborasi apik antara ITB dengan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI). Dukungan tak kalah penting datang dari Ikatan Alumni ITB (IA ITB) dan Rumah Amal Salman untuk pembangunan infrastruktur, serta Paragon Corp yang berkontribusi menyalurkan bantuan pangan berupa 200 paket bingkisan bagi warga yang membutuhkan.
Ketua Ikatan Istri Dokter Indonesia, Usanti, menjelaskan bahwa pihaknya menggandeng Rumah Amal Salman dalam upaya membangun kembali jaringan pipa air yang rusak parah akibat bencana. “Pembangunan ini didanai dari donasi masyarakat yang dihimpun untuk korban bencana di Sumatera, ” ungkapnya.
Kini, jaringan pipa sepanjang 4, 1 kilometer berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) telah terpasang, menjangkau permukiman warga di Salareh Aia. Infrastruktur ini dirancang untuk melayani 281 keluarga atau sekitar 1.000 jiwa, dengan kapasitas distribusi air yang mampu mencapai 35.000 liter per hari. Lebih dari 10 titik keran hidran pun dibangun untuk memudahkan akses air bersih bagi masyarakat.
Ketua Pengurus Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma, menekankan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya pemulihan berkelanjutan di wilayah yang dilanda bencana. “Program penyediaan air bersih ini merupakan hasil kolaborasi banyak pihak dalam upaya memulihkan martabat warga terdampak bencana di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, ” katanya.
Sistem penyediaan air bersih ini ternyata juga menjangkau fasilitas layanan kesehatan setempat, termasuk Puskesmas Koto Alam yang kini terbantu dalam melayani sekitar 150 pasien. Keterlibatan lebih dari 50 warga setempat dalam pembangunan jaringan pipa tidak hanya mempercepat proses konstruksi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang positif serta menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap infrastruktur yang dibangun.
Diharapkan, program ini dapat menjadi fondasi awal bagi kebangkitan kehidupan masyarakat di Nagari Salareh Aia, sekaligus menjadi teladan kolaborasi berkelanjutan dalam penanganan pascabencana.
Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesra Sekretariat Daerah Agam, Yunilson, menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan air bersih dari IIDI yang bekerja sama dengan ITB dan Rumah Amal Salman. “Air bersih ini menjadi masalah bagi masyarakat kita, sehingga pelayanan Puskesmas Koto Alam sempat terhenti selama dua bulan dan semenjak terpasangnya instalasi maka pelayanan sudah jalan, ” ujarnya.
Ia mengakui bahwa permasalahan air di daerah bencana seperti Palembayan, Malalak, dan Tanjung Raya telah teratasi, meskipun masih ada instalasi yang memerlukan perbaikan lebih lanjut. Pihaknya sangat berharap kolaborasi dan kerja sama antara ITB dan IIDI dapat terus terjalin, mengingat pemulihan pasca bencana di Agam, yang merupakan daerah terparah di Sumbar dengan kerugian sekitar Rp7, 9 triliun, sangatlah mendesak. (PERS)

Updates.