Agam – Senja yang seharusnya membawa ketenangan berubah menjadi duka panjang di Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan. Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 17.15 WIB, suara gemuruh dari hulu sungai memecah aktivitas warga. Dalam hitungan detik, air bah bercampur kayu besar dan lumpur menerjang empat jorong, menyapu rumah, ladang, dan harapan yang tersisa.
Hingga Jumat (28/11) pukul 18.40 WIB, BPBD Agam mencatat 34 warga ditemukan meninggal dunia, sementara 68 lainnya masih dinyatakan hilang. Banyak yang belum sempat menyelamatkan diri. Di beberapa titik, warga hanya bisa berdiri terpaku menatap puing rumah dan pakaian yang tersangkut di batang pohon—satu-satunya tanda bahwa keluarga mereka pernah berdiri di sana.
Sebanyak 700 warga terpaksa mengungsi ke masjid, surau, dan rumah kerabat. Malam-malam mereka dilalui dengan kekhawatiran akan suara hujan yang kembali turun, dan tangisan yang pecah setiap kali satu jenazah berhasil dievakuasi.
Banjir bandang dipicu curah hujan ekstrem sejak sore hari. Air yang mengumpul di perbukitan Palembayan meluruh tiba-tiba, menerjang dataran rendah tanpa memberi kesempatan warga untuk bersiap. Empat jorong yang terdampak parah yakni Kampuang Tangah Barat, Kampuang Tangah Timur, Koto Alam, dan Subarang Aia Timur.
1. Jorong Kampuang Tangah Barat
Sebanyak 7 korban ditemukan meninggal, 11 lainnya masih dicari. Mereka yang berpulang antara lain: Betrina, Romi, Asmawati, Tek Jun, Edi Ajo, Bustamam, dan Leni. Nama-nama ini kini menjadi bagian dari daftar panjang pilu yang ditinggalkan bencana.
2. Jorong Kampuang Tangah Timur
Di jorong ini, 9 warga telah ditemukan meninggal dan 4 orang masih hilang.
Korban antara lain: Memet, Ni Mis, Pelangi, Piak Aluih, Celsi, Alif, Yur Boy, Pak Pudin, dan Sariati.
Bagi warga yang selamat, malam terasa panjang. Setiap suara alat berat, setiap langkah petugas SAR, setiap tenda tempat mengungsi, semuanya menjadi pengingat bahwa hari-hari mendatang tidak akan pernah sama lagi.
.(**)

Updates.